Berita  

Pukulan Mematikan: Ribuan Tewas dan Pemukiman Tenggelam di RI & Tetangga

Berbagai bencana seringkali menghadapai Indonesia menjelang akhir tahun, dengan perhatian publik terutama tertuju pada bencana alam di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Hujan deras yang terus-menerus selama beberapa hari telah merubah sungai menjadi arus liar yang merusak permukiman warga. Cuaca yang tidak biasa ini, dipicu oleh fenomena siklon tropis yang terbentuk dekat garis ekuator, suatu kejadian langka. Fredolin Tangang, seorang ahli iklim, mengungkapkan bahwa tiga badai tropis terjadi secara bersamaan di Asia pada akhir November, yang diakibatkan oleh tabrakan antara Siklon Koto dan Siklon Senyar yang kini sudah melemah.

Badai-badai tersebut menunjukkan kondisi atmosfer yang mendukung perkembangan siklon tropis secara bersamaan. Para ilmuwan memperingatkan bahwa Asia Tenggara berada di garis depan krisis iklim, dengan kombinasi sistem cuaca yang saling tumpang tindih, diperparah oleh campur tangan manusia dalam krisis iklim. Peristiwa langka seperti Siklon Tropis Senyar yang terbentuk di dekat Indonesia menunjukkan kompleksitas kondisi cuaca di wilayah tersebut. Kondisi ini semakin parah dengan adanya peristiwa seperti Siklon Ditwah di Sri Lanka dan Siklon Koto di Filipina yang memicu banjir bandang dan tanah longsor parah.

Peristiwa-peristiwa cuaca ekstrem ini menjadi peringatan bagi Asia Tenggara dan Asia Selatan yang rentan terhadap dampak krisis iklim. Dengan perubahan cuaca yang terjadi secara simultan, seperti La NiƱa dan Dipole Samudra Hindia negatif, cuaca ekstrem semakin mungkin terjadi. Investasi dalam peringatan dini, perencanaan tata guna lahan yang baik, dan solusi berbasis alam menjadi kunci untuk mengurangi dampak buruk dari krisis iklim. Selain faktor alam, ulah manusia seperti deforestasi dan korupsi juga memiliki peran penting dalam memperparah bencana alam yang terjadi di berbagai negara.

Source link