Amerika Serikat (AS) dan China bersaing ketat untuk mendominasi sektor teknologi. Beberapa tokoh teknologi kawakan asal AS seperti Jensen Huang dan Elon Musk mewanti-wanti tentang kemajuan teknologi China yang dapat mengalahkan dominasi AS. Huang, yang merupakan salah satu tokoh paling berpengaruh dalam pengembangan AI global, mengungkapkan China hanya beberapa nanodetik di belakang AS dalam sektor pengembangan AI. Ucapan Huang ini memicu perdebatan untuk meyakinkan pemerintah AS agar membuka akses ekspor chip AI ke China.
Menurut Huang, kebijakan protektif AS terhadap chip AI justru akan mendorong China untuk mengembangkan chip secara mandiri, dan ini dapat membuat AS tertinggal. Upaya Huang akhirnya membuahkan hasil dengan keputusan kontroversial Trump untuk membuka akses ekspor chip H200 ke China. Chip H200, prosesor tercanggih kedua buatan Nvidia yang sebelumnya dilarang dijual ke China, kini bisa beredar di pasaran.
Elon Musk juga mengekspresikan kekhawatiran serupa dengan Huang. CEO Tesla dan SpaceX tersebut mencatat bahwa China akan memiliki kekuatan dan cadangan chip yang melampaui negara lain, memperingatkan Presiden AS Donald Trump tentang potensi pergeseran dominasi AS dalam sektor AI. Namun, CEO Google DeepMind, Demis Hassabis, memiliki pandangan berbeda. Hassabis menyatakan bahwa perusahaan-perusahaan AI China belum mampu berinovasi melebihi teknologi mutakhir yang dimiliki AS.
Kemunculan model R1 dari DeepSeek asal China pada tahun 2025 menimbulkan kehebohan dalam industri teknologi global. Saham-saham Silicon Valley bahkan mengalami koreksi tajam karena kemampuan DeepSeek yang disebut setara dengan model AI buatan AS namun dengan harga yang lebih terjangkau. Hassabis menyebut ini sebagai reaksi berlebihan dari industri teknologi AS, menyatakan bahwa China belum menunjukkan kemampuan untuk berinovasi melebihi batas yang dimiliki AS.
Meskipun demikian, startup AI China mulai menunjukkan potensi, dengan perusahaan seperti Minimax dan Zhipu yang berencana melantai di bursa Hong Kong. Sementara itu, industri AI dalam negeri AS juga bersaing ketat setelah munculnya ChatGPT pada akhir 2022. Google awalnya dianggap lambat dalam merespons perkembangan AI, namun Alphabet sebagai induk Google berhasil mengejar ketertinggalannya. DeepMind turut berkontribusi dalam pengembangan asisten Gemini AI milik Google dan mengembangkan robot yang berkaitan dengan integrasi AI.












