Berita  

Kontroversi CEO LinkedIn, Google, Tesla setelah berkas Epstein

Sejumlah nama bos teknologi ternama ikut terseret dalam jutaan email terkait terpidana kejahatan seksual Jeffrey Epstein yang diungkap Departemen Kehakiman Amerika Serikat (AS) pekan lalu. Salah satunya adalah miliarder dan pemimpin sejumlah perusahaan teknologi ternama, Elon Musk, yang diketahui bertukar email dengan Epstein sekitar tahun 2012 hingga 2013. Beberapa email mengungkapkan rencana Musk untuk mengunjungi pulau milik Epstein dan menghadiri ‘pesta liar’ yang diadakan di sana. Namun, Musk membantah klaim tersebut dan mengatakan menolak permintaan berkunjung dari Epstein.

Reid Hoffman, bos LinkedIn, juga tercatat dalam email yang diunggah oleh Musk, di mana Epstein menggunakan nama Hoffman untuk memintanya hadir ke pulau tersebut. Hoffman kemudian merespons ketidakbenaran tuduhan yang dilontarkan oleh Musk. Di sisi lain, Bill Gates, filantropis, dan pendiri Microsoft, disebut memiliki hubungan dekat dengan Epstein, yang bahkan menjadi salah satu alasan di balik gugatannya. Namun, Gates juga telah dibenarkan dalam email minggu lalu untuk menyembunyikan penyakit menular seksual yang didapat dari gadis-gadis Rusia.

Tidak hanya Musk, Hoffman, dan Gates, pendiri Google, Sergey Brin, dan Larry Page, juga tercatat dalam berkas Epstein terkait jaringan keuangan Epstein dengan klien dan hubungan bersama JP Morgan Chase. Epstein bahkan memperkenalkan eksekutif JP Morgan Chase kepada Brin untuk membantu bank tersebut mendapatkan nasabah dari kalangan miliarder. Pendiri Virgin Group, Richard Branson, turut terungkap dalam pertukaran email dengan Epstein pada tahun 2013, termasuk nama Jeff Bezos, pendiri Amazon, yang terlibat dalam kasus ini.

Dalam penjelasan terbaru, Bill Clinton dan Jeff Bezos juga terlihat berada di rumah kekasih Epstein, Ghislaine Maxwell, beberapa tahun lalu. Meskipun demikian, seluruh pihak yang terlibat dalam kasus ini, termasuk Gates, Musk, Brin, Page, Bezos, dan Branson, membantah semua tuduhan yang tersirat dalam email-email tersebut. Selain itu, rencana simulasi pandemi beberapa tahun sebelum Covid-19 juga disebut dalam email yang diungkapkan, namun pihak terkait mengklaim bahwa tuduhan tersebut tidak benar.

Source link