Berita  

Potensi Banjir Pendapatan RI Saat Malaysia Mengalami Krisis

Sejak tahun lalu, Malaysia sering disebut sebagai pusat data dunia terbaru. Negara tersebut menjadi destinasi investasi utama bagi perusahaan teknologi raksasa seperti Microsoft, Amazon, dan Alphabet, serta perusahaan-perusahaan besar China seperti Tencent, Huawei, dan Alibaba. Investasi ini didorong oleh berbagai fasilitas yang ditawarkan Malaysia, termasuk harga tanah yang kompetitif, biaya listrik yang rendah, dan permintaan AI lokal yang tinggi.

Hingga Desember 2024, Malaysia memiliki 12 pusat data dengan total kapasitas 369,9 mW. Selain itu, ada rencana untuk membangun 28 pusat data lagi dengan total kapasitas 898,7 MW di Johor hingga kuartal kedua 2025. Johor juga berhasil menarik investor untuk 42 proyek senilai 164,4 miliar ringgit.

Namun, Malaysia juga menghadapi tantangan, terutama akibat perang dagang antara AS dan China. AS menekan Malaysia untuk melarang China mengakses chip AI AS melalui pintu belakang. Namun, jika kehilangan China sebagai mitra dagang, Malaysia juga akan mengalami dampak yang signifikan.

Pada 2025, Malaysia mengumumkan aturan yang mengharuskan izin untuk aktivitas chip AS, termasuk chip buatan Nvidia. Hal ini sebagai upaya Malaysia untuk memenuhi persyaratan dagang dengan AS. Pengawasan terhadap aktivitas ini diperkirakan akan terus ditingkatkan, menandakan ketegangan dalam hubungan perdagangan antara Malaysia, AS, dan China.

Source link