Berita  

Ahli UGM: Ancaman Bahaya di Pantai RI sebagai ‘Kuburan’ Paus

Puluhan paus pilot yang terdampar di pesisir Pantai Mbadokai, Desa Deranitan dan Desa Fuafuni, Rote Barat Daya, Nusa Tenggara Timur pada Senin (9/3/2026) telah menjadi sorotan warga setempat. Data dari Universitas Gadjah Mada (UGM) menunjukkan bahwa dari total 55 ekor paus pilot yang terdampar, 21 di antaranya ditemukan mati. Hal ini menimbulkan keprihatinan karena paus pilot adalah hewan yang dilindungi penuh berdasarkan International Union for Conservation of Nature (IUCN).

Ahli biologi dari UGM, Akbar Reza, menyoroti bahwa kejadian ini menunjukkan adanya gangguan ekologis di sekitar perairan dan bukan kejadian yang jarang terjadi. Keberulangannya di area NTT, Laut Sawu, dan sekitar Kupang sebelah barat menunjukkan bahwa ini merupakan jalur migrasi tahunan paus pilot. Selain itu, data kolaborasi penelitian dari BRIN dan James Cook University, Australia, mengungkapkan bahwa sejumlah spesies paus dan lumba-lumba juga terdampar di perairan Indonesia sejak tahun 90-an.

Penyebab pasti terdamparnya hewan-hewan laut ini memerlukan investigasi lebih lanjut melalui pembedahan atau nekropsi. Faktor yang mungkin berkontribusi antara lain tumpang tindih dengan kegiatan yang menghasilkan gelombang suara, kerusakan organ akibat parasit atau pencemaran lingkungan, dan kondisi substrat perairan. Mengingat paus pilot hidup berkelompok, kondisi salah satu individu bisa mempengaruhi kelompok lainnya, terutama dalam situasi kecemasan.

Akbar juga menegaskan bahwa pencemaran lingkungan, baik dalam bentuk suara, air, atau bahan kimia, dapat berdampak buruk pada kesehatan organ paus pilot. Di tengah kekhawatiran ini, disarankan untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut guna mengidentifikasi penyebab pasti terdamparnya hewan-hewan laut ini.

Source link