Berita  

Mirip Setetes Miras Merusak Otak: Penelitian Mengungkap Fakta Ngeri

Studi Terbaru: Konsumsi Miras Dalam Jumlah Kecil Bisa Picu Kerusakan Otak

Jakarta, CNBC Indonesia – Sudah bukan rahasia umum bahwa mengonsumsi minuman keras (miras) memiliki dampak buruk bagi tubuh. Bahkan dalam ajaran agama Islam, miras diharamkan. Namun, masih banyak orang yang mengonsumsi miras secara rekreasional, meskipun menganggapnya tidak berbahaya jika tidak berlebihan.

Miras Dalam Jumlah Kecil Pun Berbahaya

Sebuah penelitian terbaru dari Amerika Serikat (AS) menemukan bahwa mengonsumsi miras dalam jumlah kecil saja sudah dapat memicu kerusakan otak yang fatal. Menurut laporan Science Alert, peneliti mengaitkan level konsumsi miras dengan penurunan perfusi otak atau aliran darah, serta menyebabkan korteks otak menjadi lebih tipis.

Tanda-tanda kerusakan ini bahkan ditemukan pada orang-orang yang mengonsumsi kurang dari 60 miras per bulan untuk pria dan kurang dari 30 miras per bulan untuk wanita. Singkatnya, hanya satu minuman miras saja bisa memiliki dampak yang signifikan pada kesehatan otak.

Temuan Penting dari Studi

Studi ini melibatkan 45 orang dewasa dengan rentang usia 27-70 tahun yang sehat. Mereka diminta untuk mengungkapkan kebiasaan konsumsi miras selama setahun terakhir, tiga tahun terakhir, dan seumur hidup. Meskipun rata-rata konsumsi alkohol per bulan adalah 21 minuman, dampaknya pada otak begitu signifikan.

Para peneliti menemukan bahwa efek dari konsumsi alkohol ‘berisiko rendah’ dapat menyebabkan kerusakan pada jaringan kortikal otak, terutama seiring bertambahnya usia. Ini menunjukkan bahwa bahkan konsumsi alkohol dalam jumlah kecil saja dapat mengakibatkan penurunan sinergis pada perfusi dan ketebalan kortikal otak.

Kesimpulannya, konsumsi alkohol yang dianggap aman dalam jumlah kecil pun bisa memiliki konsekuensi serius terhadap integritas jaringan otak seseorang, terutama seiring bertambahnya usia. Oleh karena itu, penting untuk lebih memahami implikasi neurobiologis fungsional dari konsumsi alkohol ‘berisiko rendah’ pada orang dewasa melalui penelitian lebih lanjut.

Source link