Berita  

Eksodus Ahli AI ke China: Dampak Kehilangan Talenta Amerika

Ahli AI Ramai-ramai Pindah ke China, Apa yang Terjadi?

Jakarta, CNBC Indonesia – Industri Artificial Intelligence (AI) tengah mengalami pergeseran penguasa teknologi dunia. Hal ini ditandai dengan perpindahan talenta asal raksasa teknologi Amerika Serikat (AS) menuju China. Apa yang sebenarnya terjadi di balik fenomena ini? Simak informasinya di bawah ini.

Rekrutmen Ahli AI Top oleh Perusahaan China

Alibaba, perusahaan e-commerce terkemuka di China, baru-baru ini berhasil merekrut peneliti Google Deep Mind, Hao Zhou. Zhou akan bergabung dalam tim yang bertanggung jawab atas pengembangan Qwen AI. Di samping itu, Wu Yonghui, mantan wakil presiden riset di Google Mind, juga telah meninggalkan perusahaan untuk bergabung dengan Bytedance Seed pada tahun lalu.

Yang Zhilin, yang memiliki pengalaman bekerja di Meta AI dan Google Brain, bahkan mendirikan start-up bernama Moonshot. Start-up tersebut memiliki fokus pada pengembangan model AI yang dinamakan Kimi AI. Sementara Yao Shunyu, yang sebelumnya bekerja di Open AI, kini menjabat sebagai Kepala Ilmuan AI Tencent.

Alasan Para Ahli AI Pindah ke China

Para ahli AI China banyak yang memilih kembali ke negara asalnya karena ketidakpastian kebijakan imigrasi AS, meskipun gaji yang mereka terima lebih rendah. Selain itu, China juga terus meningkatkan investasinya dalam industri AI. Hal ini dilakukan dalam upaya mengejar terobosan teknologi dalam lima tahun ke depan.

Tidak hanya itu, model AI yang dikembangkan oleh para ahli AI China juga didorong oleh pemikiran AS. Mereka memiliki ambisi besar, di antaranya adalah Yao Shunyu yang berencana untuk membangun organisasi kecerdasan buatan umum (AGI) dalam jangka panjang.

Masa depan AI di China menjanjikan model-model yang lebih canggih dengan kinerja yang konsisten pada tugas-tugas dasar. Hal ini menunjukkan potensi besar yang belum sepenuhnya dimanfaatkan, dengan nilai industri AI yang mencapai triliunan dolar.

Source link