Berita  

Tanda Krisis iPhone: Uang Rp 8.000 Triliun Melayang

Selain Samsung dan iPhone, Industri HP China Juga Terdampak Krisis Chip Memori

Jakarta, CNBC Indonesia – Krisis kelangkaan chip memori global telah menghantam industri smartphone global, termasuk pabrikan HP China. Tingginya permintaan chip memori untuk sistem kecerdasan buatan (AI) telah mendorong kenaikan harga komponen, memaksa vendor untuk mencari solusi guna menjaga pasokan dan meraih margin yang optimal.

Sejumlah pabrikan HP China terpaksa menaikkan harga produk mereka, menyusul kenaikan harga komponen. Hal ini berdampak langsung pada daya beli konsumen di tengah kondisi ekonomi global yang bergejolak.

Penurunan Pengiriman HP Global

Menurut laporan Counterpoint untuk kuartal kedua 2026, pengiriman HP global mengalami penurunan sebesar 11% secara tahun-ke-tahun (YoY). Tiga vendor HP terkemuka dari China, yaitu Xiaomi, Oppo, dan vivo, mencatat penurunan pengapalan double-digit selama periode tersebut.

Namun, Samsung dan iPhone, yang dikenal sebagai vendor perangkat flagship, masih mencatat pertumbuhan positif sepanjang kuartal kedua 2026.

Valuasi Rp8.900 Triliun Terancam Menguap

Perkembangan positif Samsung dan iPhone belum menjamin kelangsungan kinerja di masa depan. Krisis kelangkaan chip memori diperkirakan akan terus berlanjut hingga 2028, yang berpotensi memperparah situasi harga komponen.

Hampir 10% saham Apple turun pada Akhir pekan lalu akibat proyeksi kinerja perusahaan yang mengecewakan karena krisis kelangkaan komponen, terutama terkait ledakan data center AI yang berdampak pada rantai pasok global.

Kapitalisasi pasar Apple berisiko menguap hingga US$500 miliar (sekitar Rp8.900 triliun) jika tren penurunan terus berlanjut.

Tim Cook Angkat Tangan

Tim Cook, CEO Apple, mengakui bahwa kelangkaan komponen saat ini sangat signifikan, dan perusahaan memiliki keterbatasan dalam mengatasi masalah ini. Cook menyampaikan pernyataan tersebut sebelum melepas jabatannya sebagai CEO Apple.

Meskipun Apple mencoba untuk meredam efek kelangkaan dengan stok inventaris, namun ketersediaan komponen semakin menipis, yang berdampak pada kesulitan memenuhi permintaan iPhone dan Mac di pasar.

Bisnis Layanan Apple Menjadi Sorotan Investor

Loyo-nya bisnis layanan Apple menjadi perhatian utama investor, terutama karena perlambatan tersebut terjadi di saat penjualan iPhone yang tinggi, meninggalkan pertanyaan soal layanan turunan seperti App Store dan Apple Music.

Proyeksi pertumbuhan pendapatan Apple untuk kuartal berjalan meleset dari estimasi Wall Street, yang menunjukkan keseimbangan yang tidak menguntungkan bagi Apple di tengah kenaikan harga produk.

Apple, dengan penjualan iPhone yang kuat, memiliki kesempatan untuk menahan dampak kenaikan harga tanpa mengurangi permintaan secara signifikan, tetapi tetap dihadapkan pada tantangan bisnis layanan yang lesu.

Source link