Berita  

RI Sukses Ciptakan Drone Ramah Lingkungan: Penampakan Inovatifnya






UNNUR dan <a href="https://portalberitatribun.net/2026/10/06/panas-mendidih-brin-ungkap-kapan-musim-hujan-ri-dimulai/">BRIN</a> Mengembangkan Prototipe Pesawat Nirawak

UNNUR dan BRIN Mengembangkan Prototipe Pesawat Nirawak

Sebuah kolaborasi menarik antara Pusat Riset Biomassa dan Bioproduk (PRBB) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dengan Universitas Nurtanio (UNNUR) Bandung telah menghasilkan dua prototipe pesawat nirawak yang inovatif. Kedua pesawat tersebut adalah Unmanned Aerial Vehicle (UAV) Vertical Take-Off and Landing (VTOL) dan UAV Quadcopter.

Prototipe Pesawat Nirawak Inovatif

Prototipe UAV VTOL menggunakan komposit serat abaka dan serat Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS) yang diperkaya dengan karbon aktif TKKS. Sementara itu, UAV quadcopter menggukan material epoksi yang dicampur dengan komposit serat abaka dan karbon aktif bambu.

Dosen di Prodi Teknik Penerbangan UNNUR, Lies Banowati, menyatakan bahwa kedua pesawat ini memiliki struktur ringan yang memanfaatkan bahan biomassa. UAV VTOL memiliki Maximum Takeoff Weight (MTOW) 5.5 kg, sementara quadcopter memiliki MTOW 3 kg. Keunggulan utama dari kedua pesawat ini adalah bobotnya yang ringan dibandingkan dengan pesawat nirawak konvensional yang menggunakan plastik atau logam.

Penerapan Biomassa untuk Pengembangan Pesawat Nirawak

Serat abaka, dengan densitas sekitar 1 gram per cm³, telah terbukti memiliki karakteristik ringan yang memungkinkan aplikasi sebagai material struktur UAV. Serat ini menawarkan kekuatan sekitar 111,5 MPa saat diuji tarik, dan menjadi alternatif menarik untuk pengganti material konvensional, serta meningkatkan nilai Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN).

Potensi pemanfaatan UAV VTOL dan quadcopter sangat beragam, terutama dalam sektor pertanian dan perkebunan. Pesawat ini dapat digunakan untuk pemetaan, identifikasi hama, dan pengukuran kadar air tanah, serta distribusi obat-obatan ke wilayah terdampak bencana yang sulit dijangkau oleh kendaraan biasa.

Prototipe ini telah dilengkapi dengan berbagai fitur penting seperti kamera, yang mendukung fungsinya dalam kegiatan pemetaan dan penelitian. UAV VTOL telah melalui uji ground test dan segera akan diuji terbang di Lanud Sulaiman Bandung. Sementara itu, quadcopter telah menjalani pengujian dan mampu terbang dengan baik, dengan jarak tempuh antara 10 hingga 15 km berkat baterai lithium polymer (LiPo).

Nidya Chitraningrum, Peneliti Ahli Madya PRBB, menegaskan bahwa pengembangan pesawat nirawak dengan material berbasis serat alam memberikan potensi besar bagi Indonesia. Biomassa yang melimpah dapat diolah menjadi material bernilai tambah, yang diharapkan dapat melahirkan inovasi baru di sektor industri.

Pencapaian ini juga didukung dari segi perlindungan kekayaan intelektual, dimana UAV VTOL dan quadcopter berbasis biomassa telah didaftarkan untuk mendapatkan paten. Hal ini membuktikan komitmen untuk terus mengembangkan teknologi ini agar dapat memberikan manfaat lebih luas di masa mendatang.

Melalui kolaborasi ini, UNNUR dan BRIN tidak hanya mendorong inovasi pesawat nirawak, tetapi juga memberikan dampak positif bagi pemangku kepentingan, mahasiswa, serta akreditasi perguruan tinggi. Diharapkan kerja sama ini dapat terus berlanjut menuju hilirisasi teknologi biomassa yang lebih luas dan mendalam.

Sumber: CNBC Indonesia

Source link