Berita  

Manusia Rp3.438 Triliun Ungkap Masa Depan Dunia 2030

Pernyataan CEO Nvidia Jensen Huang menambah panas perdebatan global mengenai batas keamanan dan regulasi kecerdasan buatan (AI). Di tengah munculnya laporan tentang perilaku model yang mengkhawatirkan serta gugatan antimonopoli terhadap sejumlah perusahaan teknologi, Huang menolak anggapan bahwa perkembangan AI dapat berujung pada kehancuran umat manusia.

“Tahun 2030 bukanlah akhir dunia,” ujar Huang kepada CBS News, dikutip dari MoneyWise, Senin (21/9/2026). Ia bahkan menyebut peluang 2030 menjadi akhir dunia sebesar “0%”.

Huang juga mengkritik peringatan yang disampaikan sejumlah laboratorium riset AI. Menurut dia, peringatan tersebut telah berkembang menjadi “narasi kiamat” yang tidak didasarkan pada sains. Ia menilai upaya menakut-nakuti publik tidak perlu dan tidak bertanggung jawab.

Gugatan terhadap perusahaan AI

Pernyataan itu disampaikan hanya beberapa hari setelah empat pelanggan berbayar mengajukan gugatan class action di pengadilan federal San Francisco. Gugatan yang didaftarkan pada 18 September di Pengadilan Distrik AS untuk Distrik Utara California tersebut menargetkan Anthropic, OpenAI, Google, dan SpaceXAI milik Elon Musk.

Para penggugat, yang menggunakan layanan ChatGPT, Claude, Grok, serta Gemini, menuduh perusahaan-perusahaan itu bersekongkol secara ilegal untuk memperlambat perkembangan industri AI. Mereka menilai kesepakatan kolektif untuk mengerem laju pengembangan teknologi tersebut melanggar Pasal 1 Undang-Undang Sherman.

Perselisihan ini berawal dari esai CEO Anthropic Dario Amodei pada 12 September. Ia menyerukan koordinasi lintas industri untuk memperlambat pengembangan AI setelah pada Juli agen uji OpenAI dilaporkan membobol sistem perusahaan lain secara otonom. Seruan tersebut kemudian mendapat dukungan dari CEO OpenAI Sam Altman, Elon Musk dari xAI, dan pendiri Google DeepMind Demis Hassabis.

Pengacara utama para penggugat, Nick Rowley, menilai langkah tersebut tidak dapat dibenarkan oleh hukum antimonopoli. “Undang-undang antimonopoli tidak mengizinkan para pesaing untuk memutuskan di antara mereka sendiri bahwa persaingan terlalu berbahaya,” kata Rowley.

Kepentingan Nvidia dan sikap Washington

Posisi Huang dalam perdebatan ini turut dikaitkan dengan kepentingan bisnis Nvidia. Perusahaan yang memproduksi chip untuk model-model AI itu disebut sebagai perusahaan paling bernilai di dunia, dengan kapitalisasi pasar US$5,3 triliun. Nvidia juga baru mengumumkan akuisisi platform AI Hugging Face senilai hampir US$13 miliar.

Pengumuman tersebut muncul beberapa pekan setelah agen uji OpenAI dilaporkan menerobos sistem live Hugging Face tanpa arahan manusia. Pada 17 September, OpenAI juga melaporkan enam kasus perilaku model AI yang dinilai mengkhawatirkan.

Meski demikian, Huang berpendapat regulasi tambahan belum diperlukan. Ia menilai hukum siber dan mekanisme pertanggungjawaban yang sudah berlaku cukup untuk menangani pelanggaran. “Terapkan itu terlebih dahulu-jangan biarkan narasi kiamat ini membebaskan mereka dari hukum yang berlaku saat ini,” ujarnya.

Sikap Huang sejalan dengan pandangan Presiden Donald Trump. Dalam panggilan telepon yang diperdengarkan Huang pada All-In Summit di Los Angeles, Senin (14/9), Trump menyebut seruan untuk memperlambat AI sebagai strategi politik yang merugikan Amerika Serikat dan “sebuah hoaks”. Trump juga menyerang Amodei melalui Truth Social serta menyatakan belum ada urgensi untuk menerbitkan regulasi tambahan.

Namun, kalangan pengembang AI dan politikus Kongres AS masih terbelah. Partai Demokrat mendorong pengawasan menyeluruh, sedangkan Partai Republik cenderung mengikuti sikap skeptis pemerintahan Trump. Di tengah perdebatan tersebut, gugatan di pengadilan federal akan menguji apakah perusahaan teknologi dapat menetapkan standar keamanan secara mandiri atau justru menghadapi persoalan antimonopoli.

Source link