Berita  

Waspada! Bahaya Tersembunyi di Rancaekek Bandung

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mendorong penyampaian hasil riset kebumian melalui cara yang lebih dekat dengan masyarakat. Salah satu pendekatan yang digunakan ialah memadukan penelitian dengan seni agar informasi mengenai mitigasi gempa bumi tidak berhenti di lingkungan akademik, tetapi dapat dipahami oleh warga dan pemerintah daerah.

Upaya tersebut diwujudkan melalui pameran bertajuk “Setanah, Tak Diam”, hasil kolaborasi Institut Teknologi Bandung (ITB), BRIN, dan British Geological Survey (BGS) di Selasar Sunaryo, Bandung. Kepala Organisasi Riset Kebumian dan Maritim (ORKM) BRIN Luki Subehi menyampaikan pentingnya model diseminasi seperti itu saat membuka pameran tersebut.

Riset kebumian perlu menjangkau pembuat kebijakan

Menurut Luki, hasil penelitian harus disampaikan kepada masyarakat sekaligus pemerintah daerah yang memiliki peran dalam pengambilan kebijakan. Penyebaran pengetahuan itu dinilai penting untuk mempertemukan pemahaman berbagai pihak mengenai mitigasi bencana.

“Ini merupakan salah satu bentuk diseminasi atau penyebaran informasi serta edukasi kepada masyarakat secara langsung, interaktif, dan terasa sangat dekat,” ujar Luki, seperti dikutip dari laman BRIN, Sabtu (26/9/2026).

Ia juga menekankan bahwa pengetahuan tentang kondisi kebumian dapat digali dari kearifan lokal, termasuk toponimi atau penamaan suatu wilayah. Nama tempat, kata dia, sering kali menyimpan informasi mengenai karakter lingkungan yang perlu diperhatikan oleh masyarakat.

Luki mencontohkan wilayah yang memiliki awalan “ranca”, seperti Rancaekek. Istilah tersebut bermakna rawa dan merujuk pada kondisi kawasan yang dahulu merupakan bagian dari danau purba. Tanah di wilayah seperti itu disebut memiliki karakter lunak, menyerupai bubur.

Karakter tanah tersebut dapat membuat kawasan mengalami pergerakan ketika terjadi guncangan. Karena itu, penamaan wilayah dari masa lalu dapat berfungsi sebagai pengingat mengenai kondisi lingkungan dan potensi risikonya.

Ingatan bencana bisa memudar

BRIN menilai kearifan lokal semakin penting karena jarak antara satu kejadian gempa besar dan kejadian berikutnya dapat berlangsung lebih dari dua hingga tiga generasi. Rentang waktu yang panjang berpotensi membuat pengalaman, pengetahuan, dan ingatan kolektif mengenai bencana hilang apabila tidak terus diwariskan.

Indonesia berada di kawasan sabuk vulkanik dan dikelilingi jalur sesar aktif. Kondisi geografis itu membuat edukasi kebencanaan perlu dilakukan secara berkelanjutan dan menjangkau masyarakat hingga tingkat paling bawah.

Luki mengatakan, tinggal di wilayah rawan bencana tidak semestinya membuat masyarakat pesimis atau terus-menerus diliputi ketakutan. Pengetahuan mengenai ancaman justru perlu dijadikan dasar untuk membangun kesiapsiagaan.

“Kita harus menurunkannya ke masyarakat bahwa kita tinggal di kawasan yang memang rawan bencana. Namun, bukan berarti kita harus menjadi pesimis atau takut, melainkan kita harus hidup berdampingan dengan bencana,” katanya.

BRIN menegaskan, penyebaran hasil riset harus dilakukan terus-menerus agar masyarakat dapat mengikuti perkembangan pengetahuan terbaru. Edukasi itu ditujukan bagi seluruh kelompok usia, mulai dari generasi muda hingga lanjut usia, sehingga mereka memahami jenis bencana yang mungkin terjadi dan langkah persiapan yang diperlukan.

Source link