Podcast dan radio kini tidak lagi berdiri sebagai dua pilihan media yang saling meniadakan. Keduanya justru hadir melalui perangkat dan platform yang sama, mulai dari ponsel, YouTube, Spotify, aplikasi radio, hingga layanan streaming. Perubahan tersebut membuat cara masyarakat menikmati audio dan percakapan menjadi semakin beragam.
Survei Snapcart terhadap 1.638 responden pada 2026 menunjukkan podcast telah menjadi bagian dari kebiasaan konsumsi media di Indonesia. Namun, sebagian besar responden belum mendengarkannya setiap hari. Sebanyak 43 persen mengakses podcast kurang dari sekali dalam seminggu, 22 persen satu hingga dua kali per minggu, 18 persen tiga hingga empat kali per minggu, dan 17 persen setiap hari.
Podcast menawarkan kendali kepada pendengar
Daya tarik utama podcast terletak pada kebebasan memilih waktu dan topik. Pendengar tidak perlu menunggu jadwal tayang tertentu karena episode dapat diputar kapan saja sesuai kebutuhan. Dalam survei Snapcart, topik pembahasan menjadi pertimbangan utama bagi 47 persen responden ketika memilih podcast. Sebanyak 33 persen lainnya mempertimbangkan pembawa acara atau narasumber.
Ragam tema yang tersedia pun luas, dari komedi, kesehatan mental, bisnis, olahraga, teknologi, berita, hingga cerita horor dan true crime. Formatnya juga tidak lagi terbatas pada suara. Sebanyak 76 persen responden Snapcart mengakses podcast melalui YouTube dan YouTube Music, sementara Spotify digunakan oleh 16 persen responden.
Artinya, istilah “mendengarkan podcast” kini dapat merujuk pada dua pengalaman sekaligus: menyimak audio sambil melakukan aktivitas lain atau menonton percakapan dalam format video.
Di Indonesia, contoh format tersebut terlihat pada Close The Door milik Deddy Corbuzier yang membahas isu, berita, kisah inspiratif, dan sisi lain para narasumber. Ada pula Podcast Raditya Dika dengan topik kehidupan sehari-hari, pekerjaan, hubungan, bahasa, serta pengalaman pribadi. Sementara itu, PODKESMAS menghadirkan obrolan ringan dan komedi bersama Surya, Omesh, Darto, dan Angga Nggok, dengan karakter percakapan yang menyerupai gaya talk show radio dalam kemasan video podcast.
Radio beradaptasi, bukan menghilang
Perkembangan podcast tidak otomatis membuat radio ditinggalkan. Komisi Penyiaran Indonesia pada 2025 menyebut pendengar radio masih bertahan, meski aksesnya semakin beragam dan tidak hanya melalui perangkat radio terestrial. Banyak stasiun radio kini menyediakan siaran melalui situs, aplikasi, YouTube, dan platform digital lainnya.
Prambors, misalnya, kembali menyiarkan segmen ikonik The Dandees yang dibawakan Dimas Danang Suryonegoro dan Imam Darto. RRI juga mengembangkan ekosistem digitalnya dan pada 2026 memperluas produksi podcast ke Spotify melalui Voice of Indonesia.
Radio memiliki keunggulan yang berbeda dari podcast. Siarannya berlangsung langsung sehingga pendengar tidak selalu mengetahui topik, lagu, komentar, atau percakapan yang akan muncul berikutnya. Interaksi melalui telepon, pesan, dan media sosial juga menciptakan kedekatan antara penyiar dan pendengar. Ketua Komisi Penyiaran Indonesia dalam Radio Summit XVIII 2025 menilai kedekatan tersebut tetap menjadi salah satu kekuatan radio.
Batas radio dan podcast semakin kabur
Data Populix yang dirangkum GoodStats pada September 2026 memperlihatkan konsumsi berbagai kanal berlangsung bersamaan. Sebanyak 72 persen responden menonton video podcast dalam 30 hari terakhir, sedangkan 45 persen mengonsumsi podcast audio. Radio FM/AM melalui perangkat radio dikonsumsi 30 persen responden, sementara radio melalui situs web atau aplikasi mencapai 25 persen.
Survei yang sama mencatat 82 persen audiens menggunakan lebih dari satu kanal media dalam periode tersebut. Seseorang dapat menonton video podcast ketika ingin mengikuti percakapan narasumber, mendengarkan episode audio saat bekerja, lalu beralih ke radio ketika berkendara.
Podcast memberi keleluasaan dalam memilih topik, waktu, pembawa acara, dan episode. Radio menawarkan spontanitas, informasi lokal, musik, lalu lintas, serta rasa ditemani secara langsung. Karena itu, perkembangan media saat ini lebih mencerminkan pergeseran cara akses daripada hilangnya salah satu medium. Radio masuk ke dunia podcast, sementara podcast memanfaatkan siaran langsung dan platform digital untuk membangun komunitas.












