Polisi di Jakarta Barat membina tujuh remaja yang diduga terlibat dalam tawuran di Jalan Terate Raya melalui pesantren kilat. Kapolsek Tambora, Kompol Muhammad Kukuh Islami, mengatakan bahwa selain menangkap para remaja, mereka juga memberikan pembinaan melalui pesantren kilat selama tujuh hari. Program pembinaan tersebut tidak hanya fokus pada kedisiplinan jasmani, tetapi juga melibatkan penanaman nilai-nilai spiritual dan moral. Kegiatan seperti keagamaan, refleksi diri, serta pendidikan karakter menjadi bagian dari pembinaan tersebut.
Menurut Kukuh, para remaja juga diminta untuk menuliskan komitmen untuk tidak mengulangi tindakan serupa di masa depan dan meminta maaf kepada orang tua mereka. Tujuan dari pembinaan ini adalah agar para remaja dapat kembali ke rumah bukan sebagai pelaku tawuran, melainkan sebagai anak-anak yang lebih baik. Polisi ingin menekankan bahwa tawuran bukanlah solusi, namun malah dapat merusak masa depan para remaja tersebut.
Tindakan pembinaan ini dilakukan untuk mengubah perilaku para remaja agar mereka dapat berkontribusi positif dalam masyarakat. Dengan adanya pembinaan melalui pesantren kilat, diharapkan para remaja akan mengambil pelajaran berharga dan memperbaiki perilaku mereka ke depan. Melalui pendekatan yang holistik, polisi berharap dapat mengurangi kasus tawuran yang merugikan banyak pihak.












