Industri kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) mengalami peningkatan yang signifikan, menyebabkan pasar memori global mengalami kelangkaan pasokan pada tahun 2026. Produsen chip terkemuka seperti Nvidia, AMD, dan Google menjadi prioritas utama dalam membeli RAM, terutama high-bandwidth memory (HBM) yang digunakan untuk chip AI. Lonjakan permintaan memori ini memberikan keuntungan kepada Micron, SK Hynix, dan Samsung Electronics sebagai pemain utama dalam pasar RAM dunia.
Peningkatan permintaan ini mengakibatkan melonjaknya harga memori. Riset TrendForce memproyeksikan kenaikan harga rata-rata DRAM global sebesar 50%-55% pada kuartal ini dibandingkan dengan kuartal IV-2025. Fokus utama permintaan tersebut berasal dari HBM, komponen penting yang digunakan dalam GPU AI. Produsen chip seperti Nvidia menggunakan HBM untuk meningkatkan kinerja chip AI mereka.
Memori HBM jauh lebih kompleks daripada RAM konvensional yang digunakan dalam perangkat konsumen seperti laptop dan ponsel pintar. Micron mendesain HBM dengan spesifikasi bandwidth tinggi yang dibutuhkan oleh chip AI. Namun, peningkatan dalam produksi HBM juga berdampak pada pasokan memori konvensional, sehingga produsen seperti Nvidia harus memastikan ketersediaan memori untuk produk konsumennya.
Meskipun harga memori meningkat, Nvidia bersikeras bahwa pemasok memori sedang menyiapkan produksi tambahan untuk mengatasi permintaan yang tinggi. CEO Nvidia, Jensen Huang, mengakui tantangan dalam memastikan ketersediaan memori untuk memenuhi kebutuhan AI yang semakin meningkat. Meskipun demikian, Huang menegaskan bahwa pabrik memori dan pemasok memori sedang bekerja keras untuk memenuhi permintaan yang terus berkembang dalam industri kecerdasan buatan.












