Berita  

Ketakutan Trump Terwujud: China Makin Ganas

China semakin mendominasi teknologi kecerdasan buatan dengan inovasi drone militer terbaru. Amerika Serikat berupaya membatasi pertumbuhan China dalam teknologi AI dengan pembatasan ekspor chip canggih. Meskipun demikian, China terus mengembangkan chip canggih secara mandiri untuk mengurangi ketergantungannya pada teknologi AS.

Dalam sebuah studi yang dilakukan oleh Universitas Beihang, drone China dikembangkan dengan kemampuan meniru perilaku hewan seperti elang dan merpati. Drone defensif berperilaku seperti elang, sementara drone penyerang berperilaku seperti merpati untuk menghindari serangan. Hasil simulasi menunjukkan kelebihan drone ‘elang’ atas drone ‘merpati’ dalam pertempuran.

China juga telah mengintegrasikan robot ‘serigala’ bersenjata dengan kawanan drone udara. Para ahli militer China memandang AI sebagai kunci untuk mengoperasikan sistem senjata tanpa awak dengan intervensi manusia minimal. Meskipun AS juga mengembangkan teknologi serupa, China memiliki keunggulan dalam produksi drone massal yang dapat menyasar musuh dengan strategi kawanan.

Risiko penggunaan teknologi kecerdasan buatan dalam militer, seperti deepfake, robot anjing, dan sistim perang kognitif, diperdebatkan oleh para ahli. Meskipun AI memungkinkan PLA untuk mengatasi keterbatasan manusia dalam pertempuran, ada kekhawatiran bahwa pengambilan keputusan yang dipimpin oleh AI dapat berdampak negatif dalam situasi peperangan yang ekstrim. China terus menggali potensi kecerdasan buatan dengan mempelajari perilaku hewan lain untuk meningkatkan koordinasi kawanan drone.

Dari sisi paten terkait AI, China unggul dengan jumlah yang jauh lebih tinggi dari AS. Militer AS lebih fokus pada integrasi drone individual dengan prajurit manusia, sementara China lebih mengedepankan kecerdasan buatan dalam pengelolaan kawanan drone. Kombinasi AI dan drone massal dapat memberikan keuntungan strategis bagi PLA dalam skenario konflik, seperti di Taiwan, dengan potensi membanjiri sistem pertahanan musuh. Para ahli memperingatkan tentang bahaya dan kompleksitas penggunaan sistem senjata berbasis AI dalam konflik militer.

Source link