Berita  

Keamanan Data Bank: Ancaman AI, Pemerintah Responsif

Kecerdasan Buatan Ancam Sistem Keuangan, Bank Harus Siapkan Rencana Aksi

Jakarta, CNBC Indonesia – Perkembangan kecerdasan buatan (AI) yang semakin canggih tak hanya membawa manfaat, namun juga menimbulkan ancaman serius bagi sektor keuangan. Otoritas pengawas perbankan Eropa memperingatkan bahwa AI generasi terbaru atau ‘frontier AI’ dapat memicu risiko siber sistemik terhadap sektor keuangan. Akibatnya, sekitar 110 bank diberi batas waktu hingga akhir Oktober 2026 untuk menyusun rencana aksi menghadapi ancaman tersebut.

Peningkatan Ancaman Siber Akibat AI

European Systemic Risk Board (ESRB) juga menyoroti dampak buruk AI terhadap risiko siber. Dalam laporan yang dirilis pada 2 Juli 2026, ESRB menyebutkan bahwa frontier AI telah menciptakan peningkatan struktural terhadap risiko siber sistemik di sektor keuangan Uni Eropa. Model AI canggih mampu mempercepat proses pencarian celah keamanan, menggabungkan berbagai kerentanan, bahkan melakukan reverse engineering terhadap pembaruan keamanan. Kemampuan ini memungkinkan pelaku kejahatan siber melancarkan serangan dengan lebih cepat dan efektif.

Tantangan Bagi Industri Perbankan

Bank-bank besar di bawah pengawasan European Central Bank (ECB) sudah mulai menerapkan AI dalam operasional mereka. Namun, penggunaan model AI yang canggih juga menimbulkan tantangan baru. Bank harus memastikan bahwa proses penanganan kerentanan keamanan dapat berjalan secepat kemampuan AI yang dimanfaatkan oleh pelaku serangan. Hal ini menuntut bank untuk mempercepat proses penutupan celah keamanan, memiliki pemetaan ketergantungan sistem dan pihak ketiga yang jelas, serta menyusun simulasi penanganan insiden dengan asumsi penyerang juga memanfaatkan AI.

Batas waktu yang diberikan regulator bagi bank-bank hingga akhir Oktober mendatang akan menjadi indikator apakah standar pengendalian yang seragam akan diterapkan atau langkah perbaikan khusus akan diberikan kepada lembaga yang masih memiliki kelemahan. Pendekatan ini juga berpotensi menjadi acuan bagi sektor lain dalam mengklasifikasikan risiko siber akibat frontier AI sebagai bagian dari pengujian ketahanan operasional di masa depan.

Source link