Berita  

Serangan Pembangkit Nuklir Tetangga RI: Data Diambil

Serangan Siber di Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Terbesar di India

Jakarta, CNBC Indonesia – Serangan siber terhadap pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) terbesar di India telah menggemparkan dunia. Kelompok peretas berhasil membobol data penting dari fasilitas strategis ini dan mempublikasikannya di dark web, memicu kekhawatiran terhadap keamanan instalasi vital tersebut.

Rincian Serangan

Menurut laporan Russia Today, kelompok ransomware bernama World Leaks telah berhasil mengambil ribuan dokumen sensitif yang terkait dengan PLTN tersebut. Dokumen-dokumen ini mencakup informasi penting seperti dokumen cetak biru fasilitas pembangkit dan detail-data pemasok komponen, dengan total hampir 19.000 file berukuran 14,3 gigabita.

Pihak pemilik dan operator PLTN, Nuclear Power Corporation of India (NPCIL), telah melakukan langkah-langkah untuk meredam dampak serangan ini. Mereka menegaskan bahwa sistem keamanan utama reaktor nuklir tidak terpengaruh meskipun terdapat informasi yang berhasil diretas oleh kelompok peretas.

Dampak dan Tanggapan

Serangan siber terhadap PLTN ini menunjukkan potensi ancaman serius terhadap infrastruktur vital suatu negara. Dengan data-data sensitif yang tersebar di internet, risiko terhadap keselamatan instalasi nuklir menjadi semakin besar.

Sementara itu, Reliance Group, kontraktor yang bertanggung jawab atas sistem pendukung PLTN, telah mengonfirmasi bahwa terjadi pelanggaran data pada server eksternal yang mereka gunakan. Mereka telah menyampaikan laporan kejadian ini kepada otoritas keamanan siber nasional.

Yotta, penyedia pusat data yang digunakan oleh Reliance Group, juga telah mengklaim bahwa mereka telah melakukan tindakan pencegahan terhadap serangan ransomware tersebut. Namun, dampak dari hilangnya data-data internal proyek nuklir tetap menjadi perhatian serius bagi berbagai pihak.

Serangan siber di PLTN Kudankulam, yang merupakan hasil kerja sama antara India dan Rusia, bukanlah yang pertama kali terjadi. Pada tahun 2019, malware berbahaya yang dikaitkan dengan kelompok peretas asal Korea Utara juga pernah menyusup ke dalam jaringan administratif PLTN tersebut.

Source link