Istilah tone deaf semakin sering digunakan dalam percakapan di media sosial untuk menilai ucapan atau tindakan yang dianggap tidak peka terhadap situasi dan perasaan orang lain. Sebutan ini dapat diarahkan kepada figur publik, pejabat negara, maupun pengguna internet yang dinilai kurang menunjukkan empati ketika berhadapan dengan krisis sosial atau penderitaan sesama.
Secara harfiah, tone deaf berarti “tuli nada”, yakni kondisi ketika seseorang kesulitan mengenali atau menyanyikan nada secara tepat. Namun, dalam penggunaan modern, istilah tersebut berkembang menjadi kiasan untuk menggambarkan kegagalan membaca suasana atau read the room.
Makna tone deaf dalam interaksi sosial
Melansir Hearview, tone deaf dalam percakapan sehari-hari merujuk pada komentar, sikap, atau tindakan yang tidak mempertimbangkan keadaan serta emosi orang lain. Respons semacam itu dapat terasa canggung, menyinggung, atau memperlihatkan rendahnya empati karena disampaikan tanpa memahami isyarat sosial dan emosional di sekitarnya.
Cambridge Dictionary mendefinisikan tone deaf sebagai ketidakmampuan memahami perasaan orang lain. Pengertian ini lebih berkaitan dengan kekeliruan dalam membaca situasi atau menyesuaikan respons, bukan penilaian bahwa seseorang selamanya tidak memiliki kepekaan.
Karena itu, seseorang bisa disebut tone deaf ketika ucapan atau tindakannya tidak sesuai dengan konteks yang sedang berlangsung. Penilaian tersebut muncul dari perilaku tertentu dalam situasi tertentu, bukan semata-mata dari karakter tetap seseorang.
Mengapa seseorang dapat bersikap tone deaf?
Menurut HuffPost, salah satu penyebabnya adalah kebiasaan tidak sungguh-sungguh mendengarkan orang lain. Mendengarkan tidak hanya berarti menangkap kata-kata, tetapi juga memahami maksud, perasaan, tindakan, serta situasi yang menyertai pembicaraan.
Seseorang mungkin merasa telah mendengar, tetapi hanya menyerap informasi di permukaan. Kebiasaan membaca secara sekilas, mengerjakan beberapa hal sekaligus, atau hanya memperhatikan bagian yang dianggap menarik dapat membuat konteks penting terlewat.
Sikap tone deaf juga dapat muncul ketika seseorang terlalu terpaku pada asumsi atau sudut pandangnya sendiri. Informasi yang diterima kemudian disaring berdasarkan keyakinan yang sudah dimiliki, sehingga tanda-tanda sosial maupun emosional dari orang lain tidak terbaca secara utuh.
Ciri-ciri perilaku tone deaf
Beberapa perilaku berikut dapat menjadi tanda seseorang kurang mampu menyesuaikan ucapan atau tindakannya dengan keadaan di sekitarnya:
1. Sulit membaca situasi. Orang tersebut tetap mengatakan atau melakukan sesuatu tanpa mempertimbangkan suasana dan kondisi yang sedang dihadapi.
2. Kurang peka terhadap dampak ucapan atau tindakan. Ia tidak menyadari bahwa perilakunya dapat membuat orang lain merasa tidak nyaman, tersinggung, atau kecewa.
3. Bersikap tidak pantas. Komentar atau tindakan yang disampaikan tidak sesuai dengan norma sosial maupun konteks pembicaraan.
4. Mengabaikan harapan sosial. Situasi serius dapat direspons dengan candaan, sarkasme, atau ejekan, termasuk ketika orang tersebut mengetahui ada pihak yang merasa terganggu.
5. Sulit menerima kritik. Ia cenderung menganggap tindakannya sudah tepat dan mengabaikan masukan ketika orang lain menjelaskan bahwa respons tersebut tidak sesuai.












