Berita  

Tren Baru China: Pelajaran Bahasa Inggris Ditolak di Sekolah

Perdebatan tentang perlu tidaknya bahasa Inggris diajarkan di sekolah kembali mencuat di China. Tang Jiafeng, seorang guru matematika asal China, mempertanyakan kebijakan yang menurutnya memaksa anak-anak mempelajari bahasa asing sebelum benar-benar menguasai bahasa lokal, Mandarin.

Tang juga menyerukan agar masyarakat menghentikan pemujaan buta terhadap segala sesuatu yang berasal dari luar negeri. Pernyataan tersebut dikutip dari Times of India pada Senin (21/9/2026) dan segera memicu tanggapan dari orang tua serta guru di China.

Perdebatan soal bahasa Inggris di sekolah

Sejumlah orang tua dan guru mendukung pandangan Tang. Mereka menilai kurikulum bahasa Inggris yang terlalu berfokus pada tata bahasa dan ujian tidak banyak membantu siswa menjadi penutur yang fasih.

Xioang Bingqi, Kepala Institut Penelitian Pendidikan Abad 21 Shenzhen, turut mengkritik sistem tersebut. Ia menyebut pola pendidikan yang ada telah menghasilkan “bahasa Inggris yang bodoh”. Menurut Xioang, orang yang menggunakan bahasa Inggris dalam pekerjaan sehari-hari hanya merupakan kelompok minoritas.

Perdebatan itu berlangsung ketika teknologi penerjemahan berbasis kecerdasan buatan (AI) secara real-time semakin banyak digunakan di tengah masyarakat China. Kemampuan teknologi tersebut ikut mendorong sejumlah kampus riset di Shenzhen untuk menghapus kursus bahasa Inggris secara bertahap.

Perubahan juga terlihat pada jenjang pendidikan dasar. Shanghai telah menghapus ujian akhir bahasa Inggris bagi siswa sekolah dasar sejak 2021. Kebijakan itu menjadi salah satu contoh berkurangnya penekanan terhadap bahasa Inggris dalam sistem pendidikan di wilayah tersebut.

Kekhawatiran terhadap kesenjangan pendidikan

Namun, penghapusan atau pengurangan pelajaran bahasa Inggris tidak sepenuhnya mendapat dukungan. Cinderella Huang, guru bahasa Inggris di Guandong, memperingatkan bahwa kebijakan tersebut dapat memperlebar kesenjangan berdasarkan kekayaan.

Huang menilai model-model AI masih membutuhkan bahasa Inggris. Karena itu, kemampuan tersebut tetap berpotensi memberikan keuntungan bagi mereka yang menguasainya, terutama ketika teknologi penerjemahan belum sepenuhnya menghilangkan kebutuhan terhadap bahasa asing.

Menurut Huang, pelajaran bahasa Inggris kemungkinan masih akan tersedia di sekolah. Akan tetapi, keluarga kaya diperkirakan tetap memiliki akses lebih besar untuk mempertahankan pendidikan bahasa tersebut, antara lain dengan membayar tutor pribadi atau menyekolahkan anak mereka di sekolah internasional.

Perbedaan akses itu menjadi salah satu kekhawatiran utama dalam perdebatan yang berkembang. Di satu sisi, kritik terhadap pelajaran bahasa Inggris diarahkan pada kurikulum yang dianggap berorientasi ujian dan kurang menghasilkan kefasihan. Di sisi lain, kemampuan berbahasa Inggris dinilai masih dapat menjadi sumber keunggulan bagi siswa yang memiliki kesempatan belajar lebih luas.

Source link