Berita  

Paus Leo Serukan Perlawanan terhadap AI, Apa Alasannya?

Paus Leo XIV meminta para seniman bersatu untuk mempertahankan kreativitas manusia ketika kecerdasan buatan (AI) berkembang semakin cepat. Seruan itu disampaikan saat bertemu para tokoh budaya di Vatikan pada Jumat (2/10/2026).

Menurut Paus, kerja sama antara Gereja Katolik dan komunitas seniman perlu dibangun kembali untuk melindungi unsur yang menjadi ciri khas manusia. Ia menilai seni memiliki peran penting dalam menjaga kebudayaan dari kecenderungan yang semakin seragam.

Seni sebagai penyeimbang homogenisasi

Dalam pidatonya, Paus membandingkan seni dengan mesin pencari, tetapi dalam bentuk yang berbeda. “Kita hidup di zaman mesin pencari yang menawarkan ribuan jawaban secara instan,” kata dia, seperti dilansir RT.

Namun, seni tidak bekerja dengan cara mengindeks jawaban, melainkan melalui proses pencarian. Karena itu, karya seni dapat mendorong manusia untuk berpikir, berhenti sejenak, dan berhadapan dengan sesuatu yang tidak selalu sesuai dengan harapan mereka.

Paus menyebut “homogenisasi” sebagai salah satu ancaman bagi kebudayaan modern. Ia mengatakan karya seni yang mampu menarik perhatian dan tidak dapat langsung dikonsumsi dapat menjadi sarana regenerasi budaya sekaligus spiritual.

“Karya seni Anda … ketika menarik pandangan kita, ketika memaksa kita berhenti sejenak di hadapan sesuatu yang tidak dapat dikonsumsi, merupakan bentuk regenerasi budaya dan spiritual,” ujarnya.

Gereja soroti batas etika AI

Ketika membahas AI secara khusus, Paus menilai masyarakat perlu semakin mampu membedakan karya yang lahir dari kreativitas manusia dan produk yang dihasilkan mesin. Ia menegaskan bahwa Gereja membutuhkan peran para seniman dalam menghadapi perubahan tersebut.

“Gereja membutuhkan Anda,” kata Paus. “Algoritma tidak memiliki percikan kemanusiaan, sedangkan budaya dan seni yang autentik mempertahankan percikan ini.”

Paus Leo XIV, yang lahir di Amerika Serikat, telah berulang kali menyampaikan kekhawatiran terkait perkembangan AI sejak terpilih pada Mei 2025. Perhatiannya mencakup dampak teknologi tersebut terhadap martabat manusia, keadilan, dan dunia kerja. Ia juga menyerukan penetapan batasan etika yang jelas dalam penggunaan AI.

Dalam ensiklik pertamanya yang diterbitkan tahun ini, Paus menekankan pentingnya menjaga kemanusiaan di tengah era AI. Ia menegaskan bahwa penilaian dan tanggung jawab manusia harus tetap menjadi unsur utama.

Meski menyampaikan peringatan, Paus mengatakan dirinya tidak berada dalam kondisi panik menghadapi kemajuan teknologi itu. Kepada wartawan pada pekan yang sama, ia mengatakan masih dapat “tidur di malam hari” dan tidak berada dalam “mode panik”. Meski demikian, ia menilai peringatan para ahli mengenai potensi bahaya AI tetap harus ditanggapi secara serius.

Kekhawatiran tersebut juga dirasakan para seniman dan pekerja kreatif. Mereka memprotes penggunaan karya berhak cipta untuk melatih model AI generatif tanpa izin atau kompensasi. Selain itu, mereka khawatir gambar, musik, dan tulisan buatan AI dapat menggusur karya manusia, menekan nilai ekonominya, serta menyulitkan masyarakat membedakan karya asli dan tiruan mesin.

Source link