Alarm telah berbunyi, mata sudah terbuka, tetapi tubuh masih terasa berat untuk diajak bangun. Sebagian orang bahkan kembali menarik selimut, membuka ponsel, atau menekan tombol snooze karena merasa belum benar-benar siap memulai hari. Kondisi tersebut dikenal dalam ilmu tidur sebagai sleep inertia.
Sleep inertia adalah fase sementara ketika seseorang baru terbangun, tetapi masih mengantuk, kurang waspada, sulit berpikir jernih, dan memiliki dorongan untuk kembali tidur. Penelitian yang dipublikasikan dalam Sleep Medicine Reviews menyebut kondisi ini sebagai masa transisi dari tidur menuju keadaan terjaga sepenuhnya. Pada fase tersebut, kemampuan berpikir dan kewaspadaan dapat menurun untuk sementara.
Rasa “belum sepenuhnya sadar” biasanya paling kuat sesaat setelah bangun dan kemudian berkurang secara bertahap. Pada banyak orang, sleep inertia berlangsung sekitar 15 hingga 60 menit, meski durasinya dapat berbeda. Itu sebabnya seseorang bisa merasa sangat berat meninggalkan kasur pada menit-menit pertama, lalu menjadi lebih segar setelah mandi, terkena cahaya pagi, atau mulai bergerak.
Kurang tidur dan jadwal tidak teratur dapat memperburuk
Lamanya dan beratnya rasa mengantuk setelah bangun dipengaruhi sejumlah faktor. Salah satunya adalah kurang tidur. Ketika waktu tidur tidak mencukupi, tekanan tidur di dalam tubuh masih tinggi saat alarm berbunyi. Akibatnya, rasa kantuk dan kesulitan untuk bangun dapat menjadi lebih kuat.
Waktu seseorang terbangun serta fase tidur ketika alarm berbunyi juga dapat memengaruhi sleep inertia. Selain itu, tubuh memiliki ritme sirkadian, yakni sistem pengatur waktu internal yang membantu menentukan kapan tubuh lebih siap tidur dan kapan lebih siap terjaga.
Jadwal tidur yang berubah-ubah, kebiasaan tidur larut malam, pekerjaan pada malam hari, atau kewajiban bangun pada waktu yang tidak sesuai dengan pola tubuh dapat membuat proses bangun terasa lebih berat. Karena itu, menjaga waktu tidur dan bangun agar relatif konsisten dapat membantu tubuh membentuk pola yang lebih teratur.
Faktor sederhana juga berperan. Kasur yang nyaman membuat tubuh tetap rileks, sementara ponsel di dekat bantal menyediakan hiburan tanpa mengharuskan seseorang beranjak. Membuka media sosial atau menonton video pendek dapat membuat waktu berlalu tanpa terasa. Kebiasaan menunda bangun ini berisiko membuat waktu persiapan semakin sempit, terutama ketika harus bekerja atau bersekolah.
Langkah sederhana untuk memulai pagi
Ketika alarm berbunyi, seseorang dapat mencoba duduk dan menapakkan kedua kaki di lantai, lalu membuka tirai atau keluar sebentar untuk memperoleh cahaya alami. Cahaya merupakan salah satu sinyal penting bagi ritme sirkadian yang membantu tubuh mengenali waktu untuk terjaga.
Minum air, mencuci muka, melakukan peregangan ringan, atau berjalan selama beberapa menit juga dapat membantu tubuh mulai bergerak. Tombol snooze sebaiknya tidak dijadikan strategi utama karena tidur yang berulang kali terputus setelah alarm berbunyi belum tentu membuat tubuh terasa lebih segar.
Sesekali merasa sulit bangun merupakan hal yang umum, terutama setelah tidur larut, kurang tidur, atau harus bangun lebih pagi dari biasanya. Namun, rasa kantuk yang sangat berat dan kesulitan bangun yang terjadi hampir setiap hari meski waktu tidur sudah cukup perlu diperhatikan.
Sleep inertia yang berlangsung sangat lama dan berat dapat ditemukan pada kondisi tertentu, termasuk idiopathic hypersomnia. Sejumlah penelitian juga menemukan hubungan antara kesulitan bangun dan beberapa kondisi kesehatan mental, meski penyebabnya tidak dapat ditentukan hanya dari keluhan tersebut. Jika kantuk berat mengganggu pekerjaan, aktivitas harian, keselamatan saat berkendara, atau kualitas hidup, konsultasi dengan tenaga kesehatan diperlukan untuk mencari penyebabnya.












