Raja Baru Chip AI: Samsung Geser Nvidia dalam Laba Operasional
Jakarta, CNBC Indonesia – Raksasa chip Nvidia asal Amerika Serikat (AS) menjadi salah satu perusahaan yang paling diuntungkan di era teknologi kecerdasan buatan (AI). Sejak popularitas AI meledak pada 2022 silam, Nvidia mendadak jadi ‘primadona’ Wall Street yang pendapatannya terus mencetak rekor dari kuartal-ke-kuartal. Namun, tekanan geopolitik dan kekhawatiran investor mulai meruntuhkan posisinya.
Nvidia: Dari Puncak ke Tekanan
Nvidia menguasai kapitalisasi pasar dunia dengan nilai US$4.769 triliun, namun tekanan antara AS dan China membuat pangsa pasar Nvidia di China menurun drastis. Kebijakan AS melarang penjualan chip AI tercanggih ke China telah menggerus pendapatan Nvidia di negara tersebut, sementara Xi Jinping belum memberikan izin resmi. Di tengah konflik ini, Nvidia mulai berjuang untuk menjaga dominasinya.
Selain itu, kekhawatiran terhadap ‘gelembung’ AI yang membuat investor khawatir terkait masa depan AI yang mahal, kembali mengguncang bisnis Nvidia. Saham Nvidia melemah 5,61% dalam 30 hari terakhir, meskipun kinerja tahun ini masih positif 8,08%.
Samsung Muncul sebagai Kompetitor Baru
Samsung Electronics dari Korea Selatan tiba-tiba muncul sebagai pemain kuat dalam industri chip AI. Ledakan AI memicu krisis kelangkaan memori global, membawa berkah bagi Samsung sebagai produsen chip memori terbesar di dunia. Samsung optimistis akan mencatat laba operasional senilai 89,4 triliun won (US$58,5 miliar/Rp1.053 triliun) untuk kuartal-II 2026, menggeser Nvidia sebagai perusahaan dengan laba operasional terbesar.
Ekspektasi laba Samsung ini melebihi angka US$217 miliar sepanjang 2026, membuatnya lebih profitable dari sebelumnya. Kenaikan harga chip memori akibat kelangkaan di pasar yang dipicu oleh AI turut mendorong profitabilitas Samsung ke rekor tertinggi. Meskipun Nvidia masih mendominasi pada Q1 2026, Samsung berhasil menggeser posisinya dalam proyeksi laba operasional Q2 2026.












