Berita  

10 Alasan Mengapa Banyak yang Memilih Pindah ke China

Perusahaan AS Mulai Melirik Model AI China sebagai Alternatif

Jakarta, CNBC Indonesia – Beberapa perusahaan mulai mempertimbangkan model kecerdasan buatan (AI) dari China sebagai pengganti layanan yang berasal dari perusahaan Amerika Serikat. Hal ini disebabkan oleh biaya penggunaan AI yang dianggap masih tinggi dan memberatkan anggaran perusahaan.

CEO Palo Alto Networks, Nikesh Arora, menyatakan bahwa biaya token AI harus turun agar teknologi ini dapat diterima secara luas di kalangan dunia usaha.

Efisiensi Model AI Terbaru OpenAI Meningkat

Setelah CEO OpenAI, Sam Altman, mengumumkan bahwa model AI terbaru dari perusahaannya telah meningkat efisiensinya hingga 54% dalam penggunaan token untuk kebutuhan agentic coding, Arora pun memberikan tanggapannya.

“Saya pikir 54% adalah awal yang baik. Saya rasa kita masih membutuhkan satu lompatan lagi,” kata Arora seperti dilansir dari CNBC Internasional.

Biaya Token AI Meningkat, Perusahaan Cari Solusi

Biaya token yang terus meningkat menjadi masalah besar bagi perusahaan yang ingin menggunakan AI. Anggaran yang membengkak akibat biaya tersebut membuat implementasi teknologi semakin sulit dilakukan.

Bukan hanya Arora, CEO Palantir Alex Karp juga turut mengkritik model bisnis berbasis token yang digunakan Anthropic dan OpenAI. Karp menyebut model AI dengan bobot terbuka (open-weight models) bisa menjadi solusi alternatif.

Belanja AI Global Terus Meningkat

Sementara itu, belanja AI global terus meningkat, termasuk untuk mendukung pembangunan infrastruktur dalam skala besar. Beberapa perusahaan teknologi bahkan mulai mencari sumber pendanaan baru.

SpaceX berhasil mengumpulkan dana sebesar US$25 miliar melalui penerbitan obligasi, sedangkan Amazon memperoleh pendanaan utang senilai US$25 miliar untuk menopang ekspansi investasinya.

Arora optimis bahwa pasar akan menyesuaikan diri dengan besarnya belanja AI dan anggaran untuk teknologi ini akan menurun seiring waktu.

Source link