Berita  

**Menkeu Minta Dukungan China Jelang Pertemuan Dua Presiden**

Perundingan Amerika Serikat dan China di New York belum menghasilkan kesepakatan besar, tetapi membuka kembali sejumlah isu sensitif menjelang pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping di Washington. Menteri Keuangan AS Scott Bessent dan Wakil Perdana Menteri China He Lifeng mengakhiri pembicaraan tertutup pada Minggu (20/9).

Washington mendorong Beijing mengambil langkah konkret dalam dua bidang: membangun mekanisme keamanan kecerdasan buatan (AI) dan memastikan pelaksanaan sejumlah komitmen perdagangan yang sebelumnya telah disepakati. Kedua isu tersebut diperkirakan menjadi bagian penting dalam agenda pertemuan Trump dan Xi pada Kamis dan Jumat mendatang.

AS Dorong Transparansi Risiko AI

Setelah pertemuan, Bessent menekankan pentingnya keterbukaan data antara dua negara yang dianggap sebagai kekuatan utama dalam pengembangan AI. Menurut dia, transparansi dibutuhkan untuk mengantisipasi risiko lintas batas yang dapat muncul dari teknologi tersebut.

“Kami berpikir bahwa, seperti halnya aktivitas lintas batas lainnya, beralih dari ketertutupan menuju transparansi yang lebih besar antara kekuatan AI nomor satu dan nomor dua di dunia adalah hal yang sangat penting,” ujar Bessent, dikutip Reuters, Senin (21/9/2026).

Amerika Serikat mengusulkan pembentukan sistem pemberitahuan bersama untuk meredam potensi insiden AI yang berkaitan dengan keamanan nasional. Gagasan konsultasi AI sebenarnya telah dibicarakan Trump dan Xi dalam pertemuan di Beijing pada Mei lalu, tetapi forum tersebut kemudian terhenti tanpa kejelasan lanjutan.

China belum memberikan persetujuan terbuka terhadap proposal tersebut. Kantor berita Xinhua hanya menyebut pertemuan antara kedua delegasi berlangsung “konstruktif”, tanpa menjelaskan apakah Beijing menerima usulan Washington mengenai mekanisme keamanan AI.

Washington Tagih Komitmen Dagang

Selain teknologi, delegasi AS meminta kepastian atas sejumlah janji perdagangan China. Washington menagih komitmen Beijing untuk meningkatkan pembelian produk pertanian AS hingga US$17 miliar per tahun serta rencana pembelian lebih dari 200 pesawat Boeing.

Kelancaran pasokan mineral penting atau critical minerals untuk perusahaan-perusahaan AS juga belum mendapat kepastian. China sebelumnya berjanji melonggarkan ekspor mineral tersebut melalui kesepakatan gencatan tahun lalu.

Perwakilan Dagang AS Jamieson Greer berupaya menjaga peluang agar pertemuan Trump dan Xi berlangsung lancar. Ia menilai kerja sama kedua negara diperlukan karena peran keduanya sangat besar dalam perdagangan dan AI.

“Ini adalah dua negara paling berkuasa di bumi, baik dalam perdagangan maupun AI, dan sangat imperative (penting) bagi mereka untuk dapat bekerja sama,” kata Greer.

Tarif dan Teknologi Masih Menjadi Hambatan

Dalam perundingan tersebut, AS dan China juga membahas pengoperasian “Dewan Perdagangan” atau Board of Trade. Washington berharap badan itu dapat membantu memangkas tarif untuk barang-barang non-sensitif, termasuk energi, komoditas pertanian, dan alat kesehatan yang akan masuk ke pasar China.

Namun, AS tetap menolak melonggarkan pembatasan ekspor cip AI canggih dan mesin semikonduktor. Di dalam negeri, sejumlah politikus dan industri otomotif juga mendesak pemerintahan Trump mempertahankan pembatasan terhadap masuknya produsen mobil China ke pasar AS dengan alasan keamanan nasional.

Rangkaian perundingan di New York itu belum menutup perbedaan antara kedua negara. Keputusan lebih lanjut kini akan bergantung pada pertemuan langsung Trump dan Xi di Washington pada Kamis dan Jumat mendatang.

Source link