Berita  

Pengganti HP Mulai Bermunculan, Waspadai Bahaya Tersembunyi

Perangkat berbasis kecerdasan buatan (AI) yang dirancang sebagai alternatif smartphone mulai menghadapi persoalan serius terkait privasi. Kacamata pintar, pin AI, hingga perekam berbentuk kartu memiliki kemampuan untuk melihat, mendengar, dan merespons, tetapi kemampuan tersebut juga membuka peluang perekaman tanpa sepengetahuan orang di sekitarnya.

Di sejumlah wilayah Inggris, kekhawatiran itu telah mendorong pembatasan penggunaan kacamata pintar. Wetherspoon, salah satu jaringan pub terbesar di negara tersebut, diketahui mulai membatasi pemakaian perangkat itu di area tempat usahanya. Langkah tersebut diambil ketika produk yang disebut-sebut dapat menggantikan smartphone mulai semakin banyak diperkenalkan.

Kekhawatiran perekaman tanpa persetujuan

Risiko utama yang disoroti adalah kemungkinan seseorang direkam secara diam-diam. Pengguna kacamata pintar dapat mengambil gambar atau merekam situasi di sekitarnya tanpa orang lain benar-benar menyadari bahwa kamera sedang digunakan. Kondisi ini memunculkan kekhawatiran bahwa hak atas anonimitas dan prinsip persetujuan sebelum pengambilan gambar akan semakin sulit dipertahankan.

Persoalan tersebut juga berujung pada gugatan hukum terhadap Meta dan Luxottica of America. Gugatan itu memuat klaim bahwa informasi privasi terkait kacamata pintar buatan kedua perusahaan tersebut menyesatkan.

Ryan Clarkson, kuasa hukum yang mewakili para penggugat, mengatakan banyak orang yang terekam secara tidak sengaja tidak menyadari bahwa gambar mereka sedang diambil. Menurut dia, masih belum jelas sejauh mana privasi pengguna lain dikorbankan demi kenyamanan yang ditawarkan perangkat tersebut.

“Tidak ada konsumen waras yang diberitahu soal privasi, lalu menyimpulkan bahwa sebuah perangkat dapat sengaja atau tidak sengaja merekam momen-momen paling pribadi mereka,” ujar Clarkson.

Perusahaan menyiapkan perangkat dan pengaman

Meta menjadi salah satu perusahaan teknologi besar yang mendorong perkembangan kacamata pintar. Perusahaan itu dilaporkan akan meluncurkan produk terbaru pada pekan ini. Samsung juga dikabarkan akan memasuki pasar serupa pada akhir tahun melalui kerja sama dengan Gentle Monster dan Warby Parker.

Namun, Wakil Presiden Eksekutif Divisi Mobile Samsung Jay Kim menegaskan bahwa kacamata pintar perusahaan tersebut tidak diposisikan sebagai pengganti total smartphone. Ia menyatakan, ketika semakin banyak pekerjaan ditangani AI, pengguna tetap menginginkan sistem yang aman dan sepenuhnya berada dalam kendali mereka.

Sejumlah perusahaan memilih merespons isu privasi dengan mengurangi kemampuan perekaman. Startup asal China, Even Realities, memperkenalkan kacamata tanpa kamera melalui model G1 pada 2024, kemudian meluncurkan generasi keduanya setahun setelahnya.

Perusahaan lain, Plaud, menawarkan perangkat perekam AI dalam bentuk kartu. Perangkat itu hanya aktif setelah dinyalakan secara manual dan dilengkapi lampu indikator atau pengumuman audio untuk memberi tahu orang-orang di sekitar ketika perekaman berlangsung.

Direktur Perusahaan Riset IDC Jitesh Ubrani menilai penolakan terhadap perangkat semacam ini bukan fenomena baru. Ketika smartphone mulai dilengkapi kamera dan mikrofon, perangkat tersebut juga sempat memicu ketakutan serta penolakan publik. Kini, kekhawatiran serupa kembali muncul seiring hadirnya perangkat AI yang dapat merekam dan merespons lingkungan secara lebih terintegrasi.

Source link