Berita  

Amerika Dihantam Petaka Baru, Banyak Perusahaan Terancam Bangkrut

Serangan siber sepanjang 2026 telah menyasar perusahaan dari sektor teknologi, kesehatan, manufaktur, hiburan, hingga layanan keuangan. Dampaknya beragam, mulai dari pencurian data pribadi dan tuntutan tebusan hingga terhentinya produksi, pemrosesan pesanan, serta pengiriman barang.

Reuters, Kamis (24/9/2026), mencatat sedikitnya 26 insiden yang dilaporkan atau berdampak pada perusahaan global. Amerika Serikat menjadi salah satu wilayah yang paling banyak terdampak. Serangan tersebut juga mencakup ransomware dan teknik rekayasa sosial yang memanfaatkan penyamaran, phishing, serta pemalsuan nomor telepon.

Serangan yang mengganggu operasional

Pada 26 Januari, kelompok ransomware World Leaks mengklaim telah mempublikasikan 1,4 terabyte data Nike. Perusahaan tidak mengungkapkan rincian investigasi maupun status pembayaran tebusan. Dua hari kemudian, Bumble, Match Group, dan Crunchbase dilanda serangan siber serentak, sementara Panera Bread melaporkan kebocoran informasi kontak kepada pihak berwenang.

Wynn Resorts diretas pada 24 Februari. Data karyawan dicuri dan perusahaan dituntut membayar tebusan senilai US$1,5 juta dalam Bitcoin. Pada 11 Maret, serangan yang diduga terkait dengan Iran melumpuhkan pemrosesan pesanan, manufaktur, dan pengiriman Stryker, sekaligus merusak perangkat berbasis Windows.

Gangguan serupa terjadi di Hasbro pada 28 Maret setelah perusahaan mematikan sejumlah sistem jaringan akibat akses ilegal. Kondisi itu berisiko menunda pemenuhan pesanan hingga beberapa pekan. West Pharmaceutical Services juga sempat mematikan sistem operasional global pada 4 Mei setelah mengalami pencurian data dan penguncian sistem.

Coca-Cola Co. melaporkan akses ilegal yang menghentikan sementara produksi anak usahanya, Fairlife, pada 16 Juli. Operasional berangsur normal pada akhir bulan. Boston Scientific kemudian menghadapi gangguan pada lini manufaktur dan pengiriman, meski sebagian besar pengiriman telah pulih pada awal September. Di Stryker, West Pharmaceutical Services, dan Boston Scientific, dampak serangan terlihat langsung pada aktivitas bisnis dan distribusi produk.

Data pasien, siswa, dan pelanggan ikut terekspos

Crunchyroll dibobol pada 12 Maret. Peretas mencuri data pribadi serta 8 juta catatan tiket dukungan, termasuk 6,8 juta alamat email unik. Pada 11 Mei, peretasan terhadap Instructure atau Canvas yang dikaitkan dengan ShinyHunters membahayakan data siswa dari hampir 9.000 institusi pendidikan. Kesepakatan kemudian dicapai bahwa data tersebut telah dihapus tanpa pembayaran tebusan.

Blank Rome menjadi korban phishing pada 21 Mei. Seorang staf tertipu untuk mengunggah dokumen yang mengekspos data pribadi 57.554 klien. Carnival melaporkan pembobolan akun karyawan pada 27 Mei yang membocorkan data pribadi, termasuk nomor identitas yang diterbitkan pemerintah.

Pada 11 Juni, Novo Nordisk mendapati data uji klinis pasien disalin pihak tak berwenang dan menutup sementara sistem internal. iRhythm Holdings dan AdaptHealth juga menghadapi serangan rekayasa sosial melalui aplikasi pihak ketiga yang berujung pada pencurian data pasien serta tuntutan tebusan.

NovoCure Limited melaporkan pada 1 September bahwa akses ilegal telah mengekspos ID internal dan data kontak lebih dari 1.400 pasien di Amerika Serikat. Astrana Health menjadi salah satu korban terbaru pada 23 September setelah penyerang menyamar sebagai staf internal dengan teknik spoofing untuk mengakses informasi rahasia perusahaan.

Eksploitasi celah dan ancaman terhadap infrastruktur digital

OpenAI menemukan celah keamanan pada 10 April setelah alat pihak ketiga, Axios, memicu alur kerja GitHub untuk mengunduh versi berbahaya. OpenAI menyatakan tidak ada data pengguna maupun kekayaan intelektual yang bocor. Rockstar Games, sebaliknya, menghadapi klaim ShinyHunters yang menyebut hampir 80 juta catatan bisnis dicuri melalui celah penyedia analitik Anodot. Perusahaan menyatakan data yang terdampak hanya bersifat non-material.

Pada 17 Juni, kampanye peretasan massal menargetkan perangkat firewall dan VPN Fortinet. Sekitar 75.000 sistem disebut jebol, dengan kata sandi perusahaan Fortune 500 dan lembaga pemerintah di lebih dari 15 negara ikut dicuri. GE dan Fiserv kemudian terdampak eksploitasi kerentanan perangkat lunak pada 13 Agustus. Kelompok peretas mengklaim mencuri data dalam jumlah besar dari hampir 50 perusahaan global, termasuk Philips dan Shell.

Gedung Putih sebelumnya membentuk kelompok koordinasi bagi pengembang AI dan operator infrastruktur kritis pada Juli untuk berbagi informasi mengenai kerentanan siber. Namun, perincian lanjutan belum tersedia ketika serangan mutakhir juga mulai menyasar agen AI milik OpenAI dan Anthropic. Insiden lain yang tercatat mencakup kebocoran di Apollo Global Management, Levi Strauss, Uber Freight, Clover Health, Abbott Laboratories, dan Astrana Health, dengan dampak mulai dari pencurian informasi korporat hingga akses ilegal ke akun internal.

Source link